
Lantunan lagu-lagu Jawa terdengar merdu di cluster Les Belles Maisons Blok E No.10, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Kamis (8/3/2012). Di rumah tersebut berlangsung acara siraman putri pertama mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar.
Siraman merupakan salah satu prosesi dalam adat Jawa sebelum melangsungkan pernikahan. Andita Dianoctora Antasariputri, putri Antasari, menikah dengan pria pujaan hatinya Mochamad Ahdiansyah, yang ditemui pertama kali saat gempa di Padang. Pernikahan keduanya akan berlangsung pada Jumat (9/3/2012) pagi.
Acara siraman diawali dengan pemasangan bleketepe yang dilakukan oleh Antasari dan istrinya, Ida Laksmiwati, yang mengenakan pakaian adat Jawa bernuansa hijau. Dalam adat Jawa, bleketepe menandakan bahwa di rumah tersebut akan ada acara dan dilangsungkan pernikahan. Antasari dan istrinya pun berjalan bersama membawa janur untuk dipasangkan di luar rumahnya. Antasari kemudian menaiki tangga untuk memasang janur tersebut.
Setelah itu, kedua orangtua mempelai putri membuka tutup pisang raja atau tuwuhan. Sebagai arti menjadi raja, dimaksudkan agar kedua mempelai nanti bisa menjadi panutan bagi masyarakat sekitar. Pohon pisang digunakan karena pohon tersebut dapat tumbuh di mana saja. Dengan begitu, kedua pengantin dapat menyesuaikan dengan lingkungannya di mana mereka akan tinggal.
Antasari juga menabur pisang itu dengan padi agar nanti, jika pengantin hidup berkecukupan, tangannya selalu terulur memberikan bantuan kepada sesama. Dalam menjalani semua ritual adat, Antasari dan Ida selalu didampingi oleh putri keduanya, Ajeng Oktarifka Antasariputri (25).
Ritual adat Jawa yang kental begitu terasa dalam prosesi ini. Ada juga bucalan yang berisi campuran dari beberapa makanan untuk diberikan kepada makhluk lain yang berada di sana dan tidak terlihat agar tidak mengganggu.
Seusai bleketepe, Antasari dan istri kembali memasuki ruangan utama acara siraman akan dilangsungkan. Ia mencampur air dari tujuh sumber yang terdiri dari kembang-kembang, seperti melati, bunga kenangan, dan mawar merah. Dimasukkan pula air dari kelapa muda yang diikat. Harapannya agar pengantin selalu berguna seperti buah kelapa dan terikat sampai kakek-nenek. Campuran air inilah yang digunakan untuk acara siraman. Campuran air tersebut juga kemudian diaduk dan diambil dalam satu gayung untuk diberikan kepada calon besan.
Dalam seluruh prosesi ini, calon pengantin pria dilarang hadir lantaran masih dalam masa pingit selama 40 hari. Mereka berdua pun baru bertemu kembali pada akad nikah besok.
Setelah usai persiapan siraman, Antasari dan istri kembali duduk di ruang berwarna putih berhias bunga warna-warni yang ada di sebelah ruang siraman. Sebelum siraman, Dita melangsungkan sungkeman kepada kedua orangtuanya terlebih dahulu.
Setelah sungkeman yang penuh haru tersebut, Dita kembali masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaian siraman. Saat ditemui Kompas.com, Rabu kemarin, Dita mengaku baju yang ia pakai untuk siraman adalah pakaian milik neneknya.
Acara siraman pun dimulai, yang memiliki arti untuk membersihkan jiwa dan raga. Antasari disusul istrinya menyirami tubuh Dita dari atas kepala hingga ujung kaki. Selesai siraman, dilakukan pemotongan rikmo atau rambut. Ini untuk menghilangkan sesuker yang menempel di tubuh Dita.
Acara dilanjutkan dengan dengan gendongan pungkasan, di mana pada 28 tahun yang lalu Dita sangat suka digendong di pundak ayahnya. Antasari dan Ida pun menggendong Dita.
Ritual adat Jawa yang panjang ini tak berakhir sampai di situ. Antasari dan istrinya juga berjualan es dawet. Para tamu undangan mengantre untuk mendapatkan dawet tersebut. Ritual ini berarti untuk memberikan bekal pada kedua pengantin.
Antasari yang memiliki darah Sumatera terlihat begitu menikmati semua rangkaian ritual adat Jawa tersebut. Hingga sampailah pada prosesi terakhir, yakni melepas ayam. Pada lepas ayam, kedua orangtua telah ikhlas untuk melepaskan anaknya menempuh hidup baru bersama pria pilihannya.
“Niat saya melepas ayam ini bahwa saya ikhlas melepaskan anak saya. Biar pintar ceker-ceker (cari uang), cari rezeki dan ilmu agar berguna bagi bangsa dan agama,” kata Antasari mengikuti kata-kata dalam adat Jawa tersebut.