

KAWARACI, KOMPAS.com - Menjadi profesor termuda bidang manajemen kontruksi tidak membuat Prof. Dr. Manlian Ronald A. Simanjuntak, ST, MT merasakan kegembiraan berlebihan. Ia justru prihatin terhadap kondisi gedung-gedung di Indonesia karena tak semuanya memiliki standar keamanan terhadap risiko kebakaran.
Faktor keselamatan terhadap risiko kebakaran (fire safety) itulah yang menjadi perhatian Manlian selama mengajar di Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Kabupaten Tangerang. Berkat penelitiannya soal hal tersebut, ia kemudian dikukuhkan sebagai guru besar bidang manajemen konstruksi di UPH. Hanya ada tiga profesor manajemen konstruksi di Indonesia, Manlian menerima gelarnya pada usia 35 tahun dan menjadikannya profesor termuda di bidang manajemen konstruksi.
Dalam acara pengukuhannya sebagai guru besar UPH, Rabu (2/3/2011) di auditorium UPH Karawaci, Manlian menyampaikan pidato bertema "Strategi Mewujudkan Keselamatan Bangunan dan Lingkungan yang Mampu Mengantisipasi dan Menanggulangi Risiko Kebakaran di Indonesia".
"Fire Safety merupakan bidang yang menarik dan belum banyak yang melakukan penelitian di bidang ini. Padahal bidang ini memiliki risiko yang besar," kata staf pengajar program S2 Teknik Sipil Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan UPH tersebut.
Ada alasan khusus mengapa Manlian begitu tertarik kepada tema ini. Ia memberikan contoh bangunan-bangunan di Jakarta. Pada 2010, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta mencatat ada 698 kasus kebakaran atau setara dua kejadian kebakaran setiap hari. Total kerugian akibat kebakaran sepanjang tahun lalu mencapai Rp 205,3 miliar. Angka ini cukup besar, apalagi DKI Jakarta merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang sudah menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2008 mengenai pencegahan dan penanggulangan pada risiko kebakaran.
"Saya terus terang saja memprihatinkan kondisi gedung-gedung di Indonesia," kata Manlian, Kamis (3/3/2011) pagi, ketika Kompas.com menanyakan perihal proteksi kebakaran dalam pembangunan kantor, apartemen, pasar, dan gedung-gedung lain di tanah air.
Keprihatinannya itu kemudian membuahkan keinginan mengajak semua pemerintah daerah untuk membuat peraturan mengenai manajemen bangunan yang memperhatikan faktor keselamatan terhadap risiko kebakaran. Ia berharap siapa pun, tidak hanya pengelola gedung, untuk memperhatikan risiko kebakaran. Penyebab kebakaran ini, paparnya, adalah penggunaan bahan bangunan yang mudah terbakar, perencanaan yang kurang baik, serta isi bangunan dan tingkat kesadaran yang sangat rendah mengenai fire safety.
"Saya mengusulkan agar pemda-pemda di seluruh Indonesia mulai pelan-pelan, dari menyusun pranata hukumnya hingga menerapkan sistem fire safety berbasis kinerja," kata Manlian, yang kini tinggal di Jalan Jombang Raya, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan.
Ada tiga hal yang menurutnya dapat dilakukan dalam proteksi bangunan terhadap kebakaran. Yang pertama adalah sistem proteksi aktif di mana suatu gedung perlu energi untuk mengaktifkan sistem peringatan kebakaran seperti alarm. Yang kedua adalah sistem proteksi pasif, yakni menyangkut struktur dan bahan bangunan. Yang ketiga menggerakkan kepedulian pengguna bangunan terhadap risiko kebakaran.
"Saya ingin ada fire safety campaign di mana yang paling penting seluruh isi bangunan itu peduli terhadap kebakaran. Ini bisa dilakukan lewat seminar, brosur, dan lain-lain. Saya ingin nantinya ada hari bebas risiko kebakaran," harapnya.
Data diri singkat:
Nama: Manlian Ronald A. Simanjuntak
Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 30 November 1974
Penghargaan: nominasi dosen terbaik UPH 2010, guru besar ke-11 UPH
Pendidikan:
- SD Budhaya II Persatuan Sosial Katolik Indonesia (PSKI) Cipinang
- SMP Budhaya II PSKI Cipinang
- SMAN 8 Jakarta
- Teknik Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (S1)
- Program Magister dan Program Doktor Teknik Sipil Universitas Indonesia (S2 dan S3)
- Program Doktor STT Internasional Harvest (S3)