KOMPAS.com Cetak ePaper Bola Entertainment Games Tekno Otomotif Female Health Properti Forum Kompasiana Images Mobile KompasKarier PasangIklan GramediaShop
Perihal Hyperlocal
Rubrik Hyperlocal Serpong merupakan media khusus bagi warga Serpong [more]
Kirim
Beritamu
Daftarkan dirimu untuk mendapatkan akses lebih luas.
Laporkan setiap peristiwa
yang terjadi di sekitar Anda
Tayang
Berita Anda dibaca oleh jutaan pembaca KOMPAS.com
Berita
Gizi Buruk Melanda Ela dan Alfian
Author: Danny Richard          Editor: Laksono Hari W Dibaca: 306
  29 Maret 2011 | 18:43 WIB
KOMPAS.com/DANNY RICHARD TAMPUBOLON
Mulia mencoba menenangkan Muhammad Alfian (1 tahun 9 bulan). Alfian merupkan salah satu dan belasan anak penderita gizi buruk di Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan.

SERPONG, KOMPAS.com - Problem gizi buruk tidak hanya melanda daerah-daerah terpencil di pelosok Indonesia. Tak jauh dari Jakarta, khususnya di Serpong, Tangerang Selatan, masih ada sejumlah balita yang tidak mendapatkan kebutuhan pangan yang memadai.

Kasus balita penderita gizi buruk di Kota Tangerang Selatan ini pernah dicatat oleh Yayasan Peduli Kawan (YPK), sebuah yayasan sosial yang dibentuk oleh warga Kencana Loka BSD City, Serpong. Pada 2008, YPK mencatat ada 52 anak kurang gizi. YPK kemudian memfasilitasi bantuan dari warga Serpong untuk anak-anak tersebut.

Salah satu anak yang pernah mengalami kekurangan gizi itu adalah Ela. Kompas.com berkesempatan mengunjungi rumahnya di Kelurahan Ciater, Kecamatan Serpong, Senin (28/3/2011) sore. "Ini dulu penderita gizi buruk, namanya Ela, sekarang baru saja memasuki usia enam tahun," ujar Sri Indiah Hardiman, salah satu penggiat YPK.

Sore itu, Ela tampak bermain di halaman belakang rumahnya. Tempat tinggalnya berada jauh dari Jalan Raya Ciater Tengah. Untuk menjangkau rumahnya, kami harus menelusuri kompleks Kencana Loka sektor 12.5 BSD City. Dari situ, kami harus melewati jalan setapak yang menanjak. Setelah melewati jalan tanah tersebut, sampailah kami di Jalan Raya Ciater Tengah. Jalannya hanya berukuran sekitar tiga meter.

"Susah nih, kalau papasan mobil di sini waktu berlawanan arah. Kalau naik motor mungkin masih bisalah," kata Sri lagi.

Perjalanan belum berakhir. Kira-kira 300 meter menelusuri Jalan Raya Ciater Tengah, sampailah kami di sebuah gang. Di gang kecil ini, kami lagi-lagi harus menempuh jalan bertanah merah sejauh kurang lebih 20 meter.

Di sinilah Ela tinggal dengan ibunya, Rini, dan neneknya. Rumah mereka berdinding batako dan berlantai semen. Di sekitarnya banyak pohon pisang, rambutan, singkong, dan mangga. Ketika kami bertandang, Ela dan keluarganya bertiga sedang berada di area pekarangan belakang rumah.

Ela yang memakai baju kuning langsung mendatangi kami ketika Sri memanggilnya. Rambutnya hitam kecokelatan, warna kulitnya sawo matang. Karena Ela belum bersekolah, sehari-hari ia hanya bermain-main dengan ibu dan neneknya. "Bapaknya kadang jarang pulang karena tukang supir angkutan umum," kata Rini.

"Ini dulu penderita gizi buruk sekitar setahun atau dua tahun lalu. Tapi sekarang sudah beranjak sehat," tutur Rini seraya membelai Ela.

Rini menceritakan, ketika anaknya masih menyandang predikat gizi buruk, Sri dan para penggiat YPK sering memberikan bantuan makanan. Selain memberikan biskuit, susu, dan sereal, Sri juga kerap memberikan kacang hijau kepada Ela.

Kini Sri bisa sedikit bernapas lega karena usaha kerasnya mengembalikan kondisi kesehatan Ela telah menemui hasil. Namun, masalah belum berhenti sampai di situ, kini Ela berpotensi menderita busung lapar.

"Bobotnya sekitar 15 kilogram, untuk usia enam tahun cukup normal. Tapi lihat perutnya itu, terlihat buncit, padahal tubuhnya enggak gemuk dan dia masih sering mencret," tambah Sri menjelaskan kondisi fisik Ela.

Mengingat kondisi perekonomian yang kurang memadai, orangtua Ela masih belum sanggup menyekolahkan Ela. Awalnya Rini ingin menyekolahkan anaknya pada tahun ajaran 2011-2012 nanti. "Tapi lagi banyak pertimbangin soal biaya juga. Soalnya secara ekonomi kami kan susah. Jadi cari sekolah yang seadanya," jelas Rini yang memilih menjadi ibu rumah tangga.

Selain Ela, Muhammad Alfian juga mengalami masalah serupa. Rumah Alfian hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumah Ela. Rumahnya berdinding batako yang sudah diplester dan dicat. Lantainya pun sudah beralaskan ubin. Sore itu Alfian sedang tidur dalam gendongan ibunya, Mulia.

"Ini masih gizi buruk, padahal sudah kami beri susu, vitamin, dan telur dari Ibu Sri. Tetapi memang dasar si Alfian ini susah makan," jelas Mulia yang bersuamikan tukang ojek.

Alfian baru berumur 21 bulan. Tubuhnya kurus, bobotnya hanya 6,6 kilogram atau sama dengan bobot normal bayi umur 5-6 bulan. Karena anaknya susah makan, Mulia hanya dua kali sehari memberikan makan untuk Alfian.

"Untungnya Alfian jarang sakit, paling kalau batuk-batuk aja, itu pun langsung kita bawa ke Puskesmas di Serpong," kata Mulia seraya mengipasi anaknya agar berhenti menangis.

Setiap Selasa, Mulia selalu memeriksakan Alfian ke Pos Pelayanan Terpadu setempat. Di situ Alfian mendapatkan vitamin dan obat gratis. Sri juga selalu memantau kondisi kesehatan warga penderita gizi buruk. "Ini seperti Alfian, masih kami monitor. Kami berikan susu formula, multivitamin, biskuit, dan sereal," katanya.

Hingga saat ini, YPK mencatat masih ada sekitar 17 anak balita penderita gizi buruk di Serpong. Karena tidak mampu menjangkau seluruh wilayah di Serpong, Sri mengajak tukang ojek setempat untuk mengantarkan susu, biskuit, sereal, dan kajang hijau kepada warga kurang gizi.

"Saya disuruh nganter ke Ciater, Rawabuntu, Rawamekar Jaya, dan daerah lain di Serpong," kata Wanta, tukang ojek yang kerap diminta mengantarkan bantuan untuk balita-balita tersebut.

 
  • Loading data..
Kirim Komentar Anda
Silakan Login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
|   Home   |   Hyperlocal   |   Ketentuan dan Layanan   |  
© 2011 KOMPAS.com - All rights reserved