

GADING SERPONG, KOMPAS.com - Siapa pun bisa pintar jika belajar dengan cara benar. Ini juga berlaku bagi siswa-siswi dari Papua yang mendapatkan beasiswa belajar di Surya Institute for Science, Computer and Math Education di Gading Serpong.
Kualitas pendidikan yang tidak merata telah membuat para siswa dari provinsi paling timur di Indonesia itu tampak kalah jauh dari siswa lain di kota-kota besar. Padahal, dengan metode pengajaran yang tepat, anak-anak dari "Bumi Cendrawasih" itu bisa menjadi anak brilian, bahkan bisa mengalahkan teman seumurannya yang belajar di sekolah favorit di Jakarta.
Cerita itu berubah tatkala para siswa Papua itu belajar di tempat khusus yang jaraknya ribuan kilometer dari rumah mereka. Para pelajar yang umumnya masih belum dapat menuntaskan perhitungan dasar matematika dengan sempurna itu mengikuti program pembelajaran untuk anak-anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Surya Institute. Anak-anak ini dititipkan ke Surya Institute dan belajar di sana. Status mereka tetap pelajar di sekolah asal mereka di Papua. Ketika mengikuti ujian nasional atau ujian akhir, mereka harus pulang dan ujian di sekolah asal mereka, setelah itu mereka kembali lagi ke Surya Institute.
Tidak ada persyaratan khusus bagi para pelajar yang dikirim ke Surya Institute. Pemerintah daerah di Papua hanya mengujikan mata pelajaran bahasa Indonesia kepada calon siswa, minimal kelas III SD. Kemampuan berbahasa ini penting supaya nantinya mereka tak kesulitan dalam berkomunikasi di tanah rantau. Itu saja tes untuk mereka, tidak ada tes lain.
Begitu sampai di STKIP Surya, mereka akan mempelajari semua mata pelajaran yang sama seperti sekolah pada umumnya. Ada matematika, Bahasa Inggris, agama, dan pembangunan karakter. Samuel Peon (9), salah satu siswa kelas III SD di Yalimo, Papua, mengaku senang bisa sekolah di Surya Institute. Sam, begitu sapaannya, baru 6 bulan berada di Surya Institute. Sebelumnya Sam tinggal di Yalimo.
Berpisah dari orangtua dan teman-teman di kampung halamannya tak membuat Sam kehilangan antusiasme belajar. "Tidak kangen (orangtua)," katanya kepada Kompas.com, pekan lalu. Ia toh bisa memiliki banyak teman di Surya Institute. Kini ia juga sangat menyukai matematika.
Pengajaran matematika untuk siswa sekolah di Surya Institute menggunakan metode gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing). Metode ini dikembangkan oleh Prof. Yohanes Surya Ph.D, rektor sekaligus pendiri Surya Institute. Metode gasing memiliki 12 buku yang harus diselesaikan oleh setiap siswa. Di usia 9 tahun, Sam sudah memasuki buku ketiga.
Siswa-siswi yang memiliki prestasi menonjol akan dipilih untuk diikutsertakan dalam kelas olimpiade. Kelas ini dibuat secara khusus untuk siswa yang akan diikutkan dalam olimpiade sains, misalnya olimpiade fisika ataupun matematika.
O ya, setelah belajar di Surya Institute, kemampuan anak-anak Papua ini berubah drastis. Jika semula mereka kesulitan menyelesaikan soal-soal matematika, yang paling dasar sekalipun, kini mereka bisa mengalahkan siswa-siswi dari sekolah favorit di Jakarta. Dalam berbagai perlombaan ilmiah, mereka kerap mendapatkan gelar juara.
Prestasi yang diperoleh oleh siswa SD di Surya Institute ini tidak kalah dari sekolah lain. Salah satunya dalam Olimpiade Robot Internasional pada 15-18 December 2011 di Universitas Tarumanegara, Jakarta. Samuel Demetouw dari SMA Negeri 1 Sentani, Riki Biarumah (SD Madrasah Tsanawiyah Fakfak), dan Jendrik Alomang (SD YPPK Wanaripi Amungme) memperoleh medal perunggu untuk kategori challenge energy saving robot.